Kampus Mengajar, Pengabdian dengan Semangat Belajar untuk Mengajar  16 Maret 2021 

Jakarta, Kemendikbud -– Pengabdian para duta Kampus Mengajar harus diiringi dengan semangat belajar untuk mengajar. Para duta terjun di sekolah-sekolah dasar bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi justru membantu guru dalam pembelajaran dengan kondisi sekolah yang kurang layak dan berakreditasi C. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nizam dalam acara Pembekalan Kampus Mengajar Angkatan I Tahun 2021 secara daring, Selasa (16/3/2021).

Pengabdian ini, lanjut Nizam, harus diiringi dengan semangat belajar untuk mengajar, serta mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di setiap sekolah dasar (SD). “Meskipun dengan kondisi tersebut, pembelajaran harus tetap dilakukan. Pembelajaran yang baik tergantung pada lingkungan sekitar, dengan cara memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menghitung, membaca, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Jika menilik pada sejarah, pada tahun 1980-an mahasiswa pernah digerakkan untuk menjadi guru dengan sukarela karena belum adanya sekolah di pelosok daerah. “Dampaknya sangat luar biasa bagi perekonomian Indonesia dan sangat dirasakan lima sampai dengan sepuluh tahun ke depan, hingga sekarang kita rasakan semua. Saya berharap pada program Kampus Mengajar ini juga dapat memajukan perekonomian dan pendidikan,” ujar Nizam.

Dengan adanya pandemic Covid-19, pembelajaran yang dijalankan pada saat ini menjadi sedikit berbeda dengan pembelajaran sebelumnya, dengan diterapkannya metode pembelajaran daring dengan transisi kembali tatap muka. Nizam berpesan agar para peserta dapat mempublikasikan pengalaman-pengalaman selama menjalani program dengan membagikannya di media sosial masing-masing. Tujuannya untuk memotivasi mahasiswa lain supaya peduli dan tertarik untuk bergabung.

Dalam pembekalan yang akan berlangsung selama lima hari ini para peserta didampingi oleh dosen pembimbing. Nantinya pada saat di lapangan pun duta yang mengajar akan didampingi oleh para guru yang diajak berkolaborasi, sesuai dengan pembelajaran yang seharusnya.

“Motivasi yang utama adalah para duta yang hati dan raganya hadir untuk mengabdi kepada tanah air melalui program Kampus Mengajar ini. Tampilkan dengan senyuman dan keikhlasan, maka semuanya akan beresonansi kepada diri kalian,” pesan Nizam.

Dirjen Dikti berharap para duta dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi para siswa serta terbangun kerangka berpikir yang positif. Selain itu, Nizam juga berpesan agar para duta tetap menjalankan protokol kesehatan. Rencananya, pada semester depan program ini juga akan kembali berlangsung dengan pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, dengan program yang berfokus pada kemampuan duta dalam menata administrasi, mengelola keuangan, mengajar dan mengatasi permasalahan lain yang berkaitan dengan sekolah.

Masih dalam kesempatan yang sama, Dosen Universitas Negeri Jakarta Erry Utomo mengusung materi mengenai pedagogi SD yang mengarah pada praktik pengembangan mental pada siswa SD.
Erry yang ikut terlibat dalam penyusunan Kurikulum 2013 mengungkapkan bawah salah satu hal utama dalam kurikulum tersebut adalah kompetensi guru. “Tentunya sebagai guru yang baik, harus memiliki kompetensi yang profesional, paham akan materi dalam penerapan sesuai dengan tingkat usia. Karena SD itu masa transisi pendidikan usia dini, maka guru harus memiliki kepribadian yang cakap,” ujarnya.

Oleh karena itu, kolaborasi antara mahasiswa dan guru sangat sangat penting demi mencapai tujuan bersama. Dalam kesempatan tersebut, Erry juga menayangkan beberapa video mengenai SD di pelosok nusantara yang sangat memerlukan uluran tangan. Ia berharap motivasi dan semangat para mahasiswa calon duta Kampus Mengajar akan bergelora demi pendidikan Indonesia yang lebih maju. (YH/DZI/FH/DH/NH/AK/Prani Pramudita)
Sumber : Kemendikbud